JAKARTA – Keinginan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk mengintegrasikan hasil Ujian Nasional (UN) ke Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dinilai akan menghilangkan makna dari UN.

Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Mungin Eddy Wibowo mengatakan, pada dasarnya UN diadakan  untuk mengukur kompetensi dan prestasi siswa selama di sekolah. Selain itu, untuk memetakan mutu setiap satuan pendidikan.

”Kalau diintegrasikan, maka akan hilang makna UN untuk mengukur dan mengevaluasi kemampuan serta kompetensi peserta didik secara nasional,” kata Mungin, kemarin.

Dia menjelaskan, dalam Pasal 68 huruf (b) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, disebutkan bahwa hasil UN dapat digunakan sebagai pertimbangan dasar seleksi masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Namun, perguruan tinggi sebaiknya tetap melakukan seleksi internal.

Berdasarkan Kurikulum

Jika pengintegrasian hasil UN ke seleksi masuk PTN direalisasikan, diharapkan tidak mengubah soal UN secara signifikan. ”UN disusun berdasarkan kurikulum untuk melakukan evaluasi, bukan semata untuk mempersiapkan dan mengukur kemampuan siswa guna masuk perguruan tinggi, karena tidak semua mau masuk ke perguruan tinggi,” tutur Mungin.

Terkait dengan rencana pemerintah untuk memperbanyak jumlah variasi soal UN menjadi 20 variasi, menurutnya, itu juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurutnya, hal tersebut justru menimbulkan kesan tidak percaya pada siswa dan sekolah.

Sebagai diketahui, pemerintah berkeinginan agar hasil UN dijadikan sebagai pertimbangan PTN dalam menyeleksi calon mahasiswa baru, seperti halnya UN di jenjang SD dan SMP.

Hasil UN SD dijadikan dasar seleksi untuk masuk ke SMP dan UN SMP dijadikan seleksi untuk masuk ke SMA. (K32-37)