Tiga Fokus Utama Kurikulum Baru

Senin, 01 Oktober 2012 17:22 wib
Image: Corbis

Image: Corbis
JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh menjelaskan, kurikulum yang baru nanti akan terkait dengan tiga kompetensi terpenting yakni attitude, skill dan knowledge (ASK) dengan penekanan yang berbeda di setiap jenjang pendidikan. Prinsip pembelajaran yang akan dipegang nanti juga harus mengedepankan observasi, pengayaan, pengolahan dan presentasi.

“Misalnya, tidak mungkin siswa hanya menghapal isi Pancasila. Selain itu, tidak mungkin juga mata pelajaran sains dihapus karena prinsip observasi hingga presentasi itu menjadi syarat mutlak kurikulum baru,” kata Nuh usai Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Jakarta, Senin (1/10/2012).

Plt Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Suyanto menjelaskan,  penyederhanaan mata pelajaran diperlukan karena siswa sekolah dasar terbebani dengan mata pelajaran bermateri dangkal. Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menyesalkan materi ajar di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sudah kelewat batas karena mengajarkan Baca Tulis dan Hitung (Calistung). Beban di PAUD ini terjadi karena pendaftaran siswa baru SD sudah menuntut calon siswanya mampu Calistung.

“Kami sudah sebarkan surat edaran akan larangan Calistung itu namun masih ada saja sekolah yang membandel,” ungkap Suyanto.

Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah menyatakan, seharusnya pemerintah membuat dulu kurikulum nasional sebelum memberikan kebebasan guru untuk menyusun kurikulum sendiri. Kurikulum nasional ini sendiri sudah tercantum dalam pasal 38 UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003. Dari kurikulum nasional itulah setiap satuan pendidikan dapat melakukan pengembangan sesuai relevansinya.

“Guru memang belum kompeten dan daya kreativitasnya pun kurang untuk membuat kurikulum,” jelasnya.

Ferdi menambahkan, meskipun dalam KTSP itu pemerintah seolah-olah memberikan kebebasan menyusun kurikulum sendiri sesuai konteks lokal, kemampuan siswa dan sarana prasarana, pada kenyataannya, guru tidak membuat kurikulum akan tetapi sebatas membuat silabus (rencana belajar). Selain itu KTSP yang ada saat ini dinilai terlalu banyak memuat materi ajar sehingga jatuhnya hanya membebani siswa.

Dia menggambarkan, di jenjang SD terdiri dari kelas satu-enam. Di setiap tingkatan ada sembilan mata pelajaran. Dengan demikian guru pun harus membuat 54 jenis KTSP. Adapun jika dibagi setiap semester maka yang harus disusun adalah 108 KTSP yang merupakan penjumlahan dari 54 KTSP dikali dua semester. Dengan gambaran itulah KTSP ini perlu direvisi dari segi konsep, filosofis, yuridis, sosiologis, kebijakan dan ideologis. Terlebih dari itu, dia mempertanyakan apakah KTSP sudah menjawab tujuan dari pendidikan nasional itu sendiri.(Neneng Zubaidah/Koran SI/rfa)