Wamendikbud: Dua mata pelajaran ini akan jadi pengetahuan umum

Senin, 1 Oktober 2012, 07:02 Wuri Handayani, Daru Waskita (Yogyakarta)
Pemerintah sususn kurikulum baru untuk tingkat SD.

Pemerintah sususn kurikulum baru untuk tingkat SD. (ANTARA/ Anang Budiono)

VIVAnews – Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mengkaji kurikulum baru untuk pelajar tingkat SD, yang diharapkan tahun 2013 sudah selesai. Menurut dia, pengkajian ini untuk mendapatkan kebijakan yang sesuai dengan karakter bangsa.

“Tim yang sedang menggodok kurikulum terdiri dari tim Kementrian Pendidikan, dan tim narasumber yang terdiri dari 15 orang tokoh pendidikan. Mereka termasuk Juwono Sudarsono, Goenawan Mohamad, dan Anis Baswedan,” kata Wiendu saat ditemui VIVAnews.

Alasan penggantian kurikulum ini karena banyaknya keluhan dari masyarakat. Sekolah sering dianggap sebagai beban, dari pada fungsinya sebagai media pembelajaran. “Faktor tersebut menghilangkan inti pokok sekolah yakni, hubungan antara guru dengan murid, sehingga kurikulum perlu pembaharuan,”jelasnya.

Wiendu menegaskan, prinsip pokoknya adalah pendidikan karakter akan memiliki bobot yang cukup besar. Namun ia menegaskan, kurikulum baru tidak akan menghilangkan mata pelajaran penting seperti IPA dan IPS.

“Mata pelajaran IPA dan IPS tetap ada, hanya saja akan digabung. Sebab, selama ini pemisahan IPA dan IPS justru menjadi dikotomi. Nantinya dua mata pelajaran ini akan berubah menjadi pengetahuan umum,” tandasnya.

Lebih mudah

Lebih lanjut Wiendu mengatakan kurikulum yang baru akan jauh lebih ringan karena adanya penyederhanaan. Metode pembelajarannya pun diperbaruhi sehingga anak mudah mempelajari.

Anggota Komisi X DPR RI, Dedi Gumelar atau yang lebih dikenal (Miing), menilai lunturnya karakter dan budaya bangsa di kalangan pelajar sekolah bukan semata-mata kesalahan murid. Menurut dia, itu karena sistem rekrutmen guru yang salah.

“Karena sekarang ini banyak orang-orang yang bukan kompetensi sebagai guru tetapi menjadi guru dan mengajar pada anak-anak sekolah. Karena pola rekrutmen yang salah menyebabkan hasil didikan pada siswa juga melenceng,”paparnya

Untuk inilah, pihaknya mengakui sejak awal sudah menentang perubahan perguruan tinggi IKIP menjadi universitas. Karena sejak awal keberadaan IKIP itu memang sudah disiapkan untuk membentuk SDM khusus guru. Begitu juga dengan SPG atau SGO. (ren)