Dua Kali Tak Lulus Uji PLPG, Dikembalikan ke Daerah

Dwi Sulistiawan/Humas

Para guru saat mengikuti PLPG.

Berita Terkait

Lebih kurang 40% dari 11.000-an peserta Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Rayon 112 Universitas Negeri Semarang (Unnes) tidak lulus. Mereka harus mengulang dengan mengikuti ujian beberapa materi. Namun jika tetap tidak lulus, mereka akan dikembalikan ke daerah masing-masing.

’’Ini tidak hanya di Rayon Unnes, tapi seluruh Indonesia. Kenyataannya memang seperti itu, banyak peserta sertifikasi profesi tidak bisa lulus,’’ kata Sekretaris Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 112 Unnes, Drs Masugino MPd di ruang kerjanya Gedung H lantai I Kampus Unnes Sekaran, Kamis (24/11)

Dia menuturkan, ketidaklulusan itu sekaligus menjadi terapi kejut bahwa ketika mereka mengikuti sertifikasi sudah pasti lulus. Itu hanya pandangan yang tidak benar. Ada proses ujian yang harus diikuti dan semua dilaksanakan secara serius.

’’Jangan sampai beranggapan begitu lolos bisa ikut PLPG dan pasti lulus. Tidak seperti itu. Kami melakukan proses ini sesuai dengan standar, sehingga yang dinilai tidak memiliki kompetensi mengajar secara profesional, tentu tidak lulus,’’ katanya.

Mereka memang masih boleh mengulang sekali dalam ujian ulangan yang harus diikuti sesuai dengan prosedur. “Jika tetap tidak lulus, mereka akan dikembalikan lagi ke Dinas Pendidikan yang mengirimkan.”

Sekadar catatan, peserta PLPG Rayon 112 Unnes terdiri atas utusan Kabupaten Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Salatiga, Semarang, Pekalongan, dan Tegal.

Di samping itu, ada kiriman dari rayon lain yang tidak memiliki program studi sesuai dengan yang dimiliki guru, misalnya Prodi Penjaskes dan Seni Budaya.

Harus Dibina

Masugino mengatakan, bagi yang tidak lulus, Dinas Pendidikan daerah diberi catatan. Guru tersebut harus mendapatkan pembinaan khusus, terutama bidang yang memang lemah, seperti variasi metode pengajaran ataupun penguasaan materi.

’’Selanjutnya terserah lembaga tersebut. Sebab, bisa saja para guru itu diikutkan lagi pada sertifikasi berikutnya atau bisa juga tidak, terserah daerah. Begitu pula jika ternyata ada pertimbangan lain ditempatkan sebagai tenaga nonkependidikan, semua diserahkan ke daerah,’’ tuturnya.

Yang pasti, selama ini peserta PLPG berasal dari semua guru. Siapa pun bisa mengikuti asalkan ditunjuk oleh daerah dan lolos ferivikasi administrasi. Hal ini yang mengakibatkan bervariasi kemampuan guru yang menjadi peserta.

’’Karena itu, kalau tahun depan ada uji awal peserta yang akan mengikuti sertifikasi, tentu sangat baik. Hasilnya diharapkan lebih baik, sehingga guru yang ikut sertifikasi sudah benar-benar merupakan hasil saringan dan tidak mengecewakan saat mengikuti PLPG,’’ ungkapnya.

Menurutnya,ini tuntutan agar kualitas guru semakin bagus pada masa depan. Dengan begitu, guru sudah tersaring sejak awal di daerah, kemudian menjadi peserta PLPG, dan akhirnya mendapatkan sertifikasi kompetensi menjadi guru yang profesional.

’’Kalau alur ini terus dilakukan secara konsisten oleh Kemdikbud, saya yakin 10 tahun ke depan guru-guru di Indonesia akan berkualitas. Ujung-ujungnya tentu menghasilkan siswa yang bermutu juga,’’ katanya.