Bakal semakin sulitnya mendapatkan tunjangan profesi atau sertifikasi
guru menjadi bahan perbincangan yang ramai di Forum Guru Sekolah
Dasar. Seorang guru, Misbahuddin Al Rasyid menulis di forum tersebut
dengan judul “Sertifikasi Guru Terancam Distop”, ini didasari banyaknya
aturan dan semakin sulitnya syarat menerima tunjangan sertifikasi.
Untuk mendapatkan tunjangan profesi, guru dituntut untuk memenuhi
beban mengajar 24 jam perpekan dengan siswa yang dibatasi jumlah
minimalnya. Hal ini menurut Misbahuddin, membuat guru harus pontangpanting
mengejar kekurangan jam mengajar di sekolah lain.
Kini di tahun 2015 untuk mendapatkan sertifikat profesi, guru harus
mengikuti Program Pelatihan Guru dalam Jabatan (PPGJ). Adanya program
PPGJ tentu dirasakan sangat sulit bagi guru dikarenakan waktu
tempuhnya yang cukup lama sekitar dua bulan (terdiri dari 140 jam
workshop dan sisanya praktik mengajar, bimbingan konseling, dan
membuat PTK).
“Setelah semua syarat yang begitu rumit tersebut, kini ada kabar terbaru
yang didapat dari dinas provinsi bahwa bagi guru yang telah sertifikasi
diharuskan memiliki nila Uji Kompetensi Guru (UKG) minimal 70 (skala
nasional)” tulis Misbahuddin (12/01/15).
Informasi yang didapatnya, bagi guru yang nilai UKGnya
dibawah 70
maka pada tahun 2015 ini akan mengikuti UKG lagi. Jika hingga tahun
2016, guru tersebut masih belum bisa mencapai 70 maka tunjangan
sertifikasinya akan dicabut dan yang bersangkutan dinyatakan tidak
berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi lagi.
Sekedar diketahui, berdasarkan hasil UKG yang telah dilaksanakan
beberapa tahun yang lalu, banyak guru yang memiliki nilai UKG dibawah
70. Dari berbagai aturan dan syarat yang semakin sulit itulah, dia menilai
akan banyak guru yang distop tunjangan sertifikasinya.
Tahun 2015 ini program sertifikasi guru diubah menjadi melalui PPGJ yang
lebih lama pendidikannya dibanding sebelumnya, yaitu PLPG yang tidak
lebih dari 10 hari. Sementara itu, informasi tentang guru harus memiliki
nilai UKG minimal 70 yang belum jelas kebenarannya ini ditanggapi
beragam.
“Dengan adanya UKG berarti untuk evaluasi sejauh mana program
sertifikasi mampu meningkatkan kompetensi guru, bukan sekedar bagibagi
duit anggaran tanpa ada peningkatan output, setuju saya dengan
adanya evaluasi tersebut” tulis Earlys Setyo.
“Sangat tidak adil bahwa untuk menentukan keprofesionalan
seseorang
hanya dilihat dari tes kognitif (UKG) dengan batas nilai 70 saja. Padahal
pekerjaan mendidik itu tidak cuma harus memiliki kognitif yang hebat,
tetapi juga afektif dan psikomotor (skill)”, tulis Niena Noerlina.