Tag

, ,


Jakarta, Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan memaparkan program strategis Kemendikbud kepada anggota Komisi X DPR RI, di Kantor DPR RI Jakarta, Selasa (07/04/2015). Salah satu program strategis bidang kebudayaan yang dikemukakan adalah regenerasi seniman dan budayawan secara sistematis melalui sekolah.

Mendikbud menjelaskan, program ini akan dimulai ketika musim liburan mendatang. Anak-anak berbakat di bidang kebudayaan akan diseleksi untuk kemudian mendapat kesempatan belajar dan mencari inspirasi kepada maestro di bidang masing-masing. “Anak-anak terpilih ini akan tinggal kurang lebih satu minggu di sanggar atau di padepokan bersama maestro, misal maestro pelukis, penyanyi, atau yang lainnya,” kata Mendikbud.

Program yang diutarakan oleh Mendikbud ini menjawab pertanyaan para anggota DPR di Komisi X tentang strategi pemerintah dalam menanamkan nilai budaya kepada setiap generasi bangsa yang dipadupadankan dengan dunia pendidikan. Dengan cara ini, Mendikbud optimis pembangunan kebudayaan juga mendapat porsi berimbang sama halnya dengan pendidikan.

“Selama ini kita terfokus di bidang sains. Betul sains tidak boleh dikurangi, tapi budaya dan olah raga tidak boleh terlupakan,” tuturnya.

Mendikbud mengatakan, pengalaman yang diperoleh siswa ketika tinggal bersama maestro akan membekas dalam ingatan mereka seumur hidup. Bahkan, Menteri Anies mengajak para anggota Komisi X yang berlatar belakang seniman untuk mendorong dan mendukung program ini dengan menyediakan rumahnya sebagai tempat belajar anak-anak.

Menanggapi usulan Mendikbud, salah satu anggota Komisi X yang berlatar belakang musisi, Anang Hermansyah, langsung menyatakan dukungannya. “Saya mau, Pak!” katanya.

Selain regenerasi seniman dan budayawan, salah satu fokus kebudayaan adalah perfilman. Menurut Mendikbud, perfilman ditonjolkan dalam pembangunan kebudayaan karena diamanatkan dalam undang-undang perfilman. Pemerintah, kata dia, ingin menjalankan amanat tersebut.

Program lainnya, Mendikbud menyebutkan akan membangun 10 rumah budaya di luar negeri, revitalisasi museum, dan registrasi 2.500 cagar budaya. (Aline Rogeleonick)